Tepat tanggal 28 Oktober 1928 atau 81 tahun lalu tonggak kebangkitan bangsa mulai terasa. Hal ini dengan kesadaran para pemuda untuk menyatukan diri dan meleburkan diri dalam satu wacana, satu ikatan emosional dan satu kesatuan ideologis yaitu sumpah pemuda. Sumpah pemuda tidak datang dengan begitu saja, para pemuda saat itu telah merancang jauh-jauh hari tentang konsep kebangsaan. Soekarno, hatta, natsyir dan yang lainnya telah menyiapkan suatu strategi untuk membangun bangsa yang kelak dikenal denan Indonesia ini.
Pemuda-pemuda saat itu mulai gelisah dan menyadari tentang politik Hindia Belanda untuk memecah belah rakyat Indonesia dan memunculkan konsep kesukuan sehingga mereka tidak akan pernah bersatu dan melawan penjajah. Para pelajar yang terkumpul dalam berbagai organisasi seperti jong java, jong sunda dan lain sebagainya mencoba untuk meleburkan diri menjadi satu karena sudah tidak kuat dengan kondisi masyarakat yang saat itu dalam keadaan tertindas dan menjadi budak di rumah sendiri.
Perasaan kesamaan nasib itulah yang membawa para pemuda untuk melaksanakan sumpah pemuda dengan deklarasi bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Meskipun mereka harus medapat pertentangan besar karena diangga melanggar bahasa nenek moyang “bahasa daerah diganti dengan bahasa Indonesia” tapi itu tidak menyurutkan mereka, karena mereka telah melihat jauh kedepan akan suatu kebebasan bagi bangsa dan golongannya.
Bukan perang dan bukan adu fisik yang dilakukan oleh pemuda saat itu, para pelajar menyiapkan strategi lain untuk menggoyahkan pemerintahan Hindia Belanda. Strategi itu adalah melalui pena. Gerakan-gerakan pemuda sebelumnya selalu kandas jika berhadapan dengna militer hindia. Kartini pernah menolak dalam salah satu suratnya yang dibukukan oleh Door Duisternis Tot Licht “banyak, segalanya dapat diambil dari diri kita, tetapi bukan pena saya. Pena tetap milik saya dan saya akan berlatih dengan rajin menggunakan senjata itu; Saya dapat menyeret dengan pena saya, jika mencelupnya dalam darah jantung saya” . Hatta muda pernah menulis Essay tentang Hindania seorang janda kaya yang menikah dengan Wollandia. Janda itu menyesal menikah dengannya karena dia mengambil semua harta bendanya hingga habis (kompas, (28/10). Bukan essay biasa tetapi suatu alegori bagi pemerintahan Hindia Belanda saat itu yang mengambil semua milik bangsa kita ini.
Berbagai hal dilakukan oleh para pemuda untuk mencapai kemerdekaan bangsa yang mereka “rakyat” inginkan. Lebih dari 350 tahun tanah air ini telah dikuasai oleh penjajah dan rakyat tidak mampu mencicipi hasil tanah air mereka. Bahan mereka membentuk organisasi-organisasi untuk menguatkan perjuangan mereka seperti perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia, perkumpulan Indonesia. Kata Indonesia merupakan transfer dari kata Indu-nesian oleh George Samuel Windsor Earl (1850), Indonesians oleh James Richardson Logan (1863), dan Adolf Bastian dengan Indonesien (1884).mereka ingat pada apa yang diteriakkan seorang orator terhadap Jurgis dalam penutup novel Upton Sinclair, The Jungle: ”Organize! Organize! Organize!” Hanya dengan konsolidasi politik yang terorganisasi, jalan menggapai persatuan terwujud. Kini semangat mereka seakan-akan telah hilang seiring berjalannya waktu terutama bagi para mahasiswa Indonesia.
Para mahasiswa kini seakan-akan telah terlelap oleh mimpi pragmatis mereka untuk kepentingan mereka sendiri dan melupakan terhadap tri fungsi yang mereka miliki. Organisasi di anggap pengganggu dan forum-forum diskusi dihilangkan diganti dengan kegiatan-kegiatan hedonism sehingga jiwa kritis mereka tidak muncul.
Masa dimana artifialisme tri fungsi mahasiswa telah tumbuh membesar dan membunuh karakter dan jiwa intelektual mahasiswa. Mereka telah merekayasa diri mereka menjadi agen perubahan, pengontrol kebijakan pemerintah dan insan analitis. Sumpah pemuda sebagai perekat ideology dan sumpah mahasiswasebagai main spirit of student movement kini menjadi wacana. Peran mereka sekarang sangat sedikit dalam membangun negeri dan sumbangsih pemikiran mereka kian tumpul. Pragmatism dan artifialisme menggerogoti jiwa dan pemikiran mereka.
Survey menarik dilakukan oleh kompas (26/10) bahwa para pemuda saat ini cenderung tidak mempunyai keinginan untuk memasuki dunia perpolitikan atau apolitis dan berfikir pragmatis meskipun mereka telah melek teknologi. Ini menjadi kekhwatiran akan tumpulnya peran pemuda dalam pembangunan bangsa. Jika hanya memasuki dunia perpolitikan saja yang menjadi keengganan mereka mungkin masih bias kita berkata “untung”, tetapi jika mereka sudah tidak peduli lagi dengan wacana-wacana politik dan kesejahteraan rakyat, bangsa Indonesia dalam keadaan terancam.Keaadaan diatas dapat dianalogikan bagi mahasiswa yang telah lupa dan tidak mau lagi memikirkan trifungsinya. Tri Fungsi mahasiswa hanya menjadi wacana dan terkubur logika pragmatism. Artifiliasism trifungsi mahasiswa kian tampak dan semangat sumpah pemudah 81 tahun silam kini tinggal sejarah. Mahasiswa harus mulai memikirkan masa yang akan datang dan mencanangkannya mulai sekarang dengan membangkitkan kembali identitas mahasiswa yang terkubur melalui refleksi sumpah pemuda dan tri-fungsi mahasiswa yang diikat dengan sumpah mahasiswa Indonesia. Abdul Gani (Ilmu Komunikasi)
Senin, 08 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar