Memahami aswaja dalam tubuh PMII tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pengetahuan ahli sunnah wal jamaah yang berada dalam PMII harus benar-benar dipahami oleh seluruh kader pergerakan. Aswaja merupakan salah satu materi yang wajib diketahui oleh kader-kader PMII sehingga dapat menjadikannya sebagai pola pikir (manhaj al- fikr). Namun, pemahaman aswaja pada saat ini mengalami tantangan yang cukup besar ketika dihadapkan kepada permasalahan ideologi. Permasalahan mendasar seperti ini dapat muncul jika para kader PMII memahami aswaja hanya sebatas tektualis normative bukan nilai-nilai substantif kontekstualis.
Pemahaman hanya sebatas tektualis normative yang dipahami ketika mendapatkan materi ketika mapaba seperti PMII berhaluan ahlu sunnah waljamaah yang mengandung nilai-nilai keadilan,toleransi,keseimbangan dan keselarasan yang berdasarkan kepada hubungan manusia antar manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhannya. Selain itu, pemahaman kader terhadap nilai-nilai historis munculnya golongan ahlu sunnah wal jamaah menjadi pemicu untama konflik ideologi ini. Sehingga, jika terdapat organisasi lain yang mengatakan berhaluan aswaja,para kader merasa sakit hati karena ideologi mereka telah diambil.
Nilai-nilai substantif kontektualis aswaja harus dipahami oleh kader PMII sejak mereka mengikuti mapaba. Nilai-nilai ini mengedepankan akan pentingnya kita memahami historical group of ahlu sunnah wal jamaah. Perlu diketahui, ahlus sunnah wal jamaah disini masih membutuhkan banyak penafsiran. Sehingga para kader dapat memahami aswaja yang mana yang di ikuti oleh PMII sebagai ideologi berpikirnya.
Aswaja yang diikuti oleh PMII secara garis besar adalah apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad yaitu golongan yang mengikuti beliau dan para sahabatnya. Jika pemahaman ini sudah menjadi dasar kita untuk menentukan aswaja yang di anut oleh PMII, maka konflik ideologi akan dapat dihindari sedini mungkin.
Rayon Alfatah Unijoyo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar